Politik Sebagai Panggung: Siapa Aktor, Siapa Penonton?

Politik sering tampak seperti panggung besar dengan naskah yang sudah disusun. Tapi siapa yang berperan aktif, dan siapa yang jadi penonton? Dalam kehidupan bernegara, politik seharusnya jadi sarana perjuangan rakyat. 

Tapi kenyataannya, politik hari ini lebih menyerupai panggung megah yang penuh sandiwara. Ada dialog yang diatur, dan tentu saja ada aktor yang memainkan peran dengan masif.

Ketika kampanye ada begitu banyak janji-janji yang diucapkan. Ada narasi kebangsaan, jargon berpihak pada rakyat, dan ada kepentingan besar yang sering tak terlihat.

Yang kita lihat adalah wajah-wajah familiar yang hadir dengan kemasan baru. Beberapa bahkan muncul bukan karena gagasan, tapi karena popularitas dan dukungan modal. Dan rakyat Lebih banyak jadi penonton yang hanya bisa menyimak.

Siapa Aktor Sebenarnya dalam Politik?

Dalam sistem demokrasi, seharusnya rakyat adalah pemeran utama. Tapi di panggung hari ini, yang paling sering tampil adalah elite politik, pemilik modal, dan buzzer bayaran. Mereka bekerja sama mengatur naskah, menentukan arah cerita, dan menyiapkan skenario untuk lima tahun ke depan.

Politik sebagai panggung membuat segala sesuatu terlihat dramatis. Ada yang pura-pura tersakiti, koalisi mendadak, hingga bermain hingga air mata di hadapan publik.

Politik di Indonesia sering kali menjadi bagian dari show. Tapi di balik itu, keputusan-keputusan besar dibuat dalam ruang tertutup, jauh dari sorotan publik.

Janji yang Datang Setiap Musim Pemilu

Setiap menjelang pemilu, panggung politik berubah jadi lebih meriah. Aktor-aktor baru muncul: dari artis, influencer, sampai tokoh muda dengan branding segar. Mereka menjanjikan perubahan, kesetaraan, dan masa depan cerah.

Namun setelah suara dikumpulkan, peran kembali dimainkan oleh kelompok yang sama. Janji tinggal janji. Yang berubah hanya kostum, bukan alur ceritanya.

Media dan Algoritma: Siapa yang Mengatur Cerita?

Peran media dalam politik Indonesia juga makin kompleks. Di satu sisi, media masih menjadi sumber informasi. Tapi di sisi lain, banyak media yang ikut menjadi bagian dari pertunjukan.

Isu dikemas, tayangan disesuaikan, dan narasi dibentuk berdasarkan apa yang laku dijual. Kini, media sosial dan algoritma ikut membentuk opini publik.

Kritik bisa dibungkam lewat framing. Yang viral bukan yang paling penting, tapi yang paling menghibur atau memecah belah rakyat.

Rakyat: Penonton Pasif atau Pemilik Panggung?

Yang paling berbahaya dari politik sebagai panggung adalah ketika rakyat hanya jadi penonton pasif. Masyarakat yang apatis dan merasa “tidak bisa berbuat apa-apa” justru memberi ruang bagi kekuasaan untuk berjalan tanpa koreksi.

Demokrasi Indonesia membutuhkan warga yang aktif, kritis, dan tidak takut bersuara. Partisipasi politik tidak berhenti di bilik suara. Ia harus terus hidup lewat pengawasan, diskusi, dan keterlibatan di berbagai level.

Saatnya Menulis Ulang Naskah Politik

Panggung politik memang akan terus ada. Tapi siapa yang bermain dan siapa yang menonton itu bisa berubah. Rakyat tidak harus naik ke atas panggung untuk memegang kendali.

Cukup dengan menjadi penonton yang sadar, waspada, dan tidak mudah digiring. Kita bisa ikut menulis ulang naskah politik negeri ini. Lewat suara, lewat kritik, dan lewat aksi nyata.

Politik sebagai panggung bukan hanya soal siapa yang bicara paling lantang, tapi siapa yang benar-benar bertindak untuk perubahan. Jangan biarkan cerita politik hanya dikuasai segelintir aktor. Karena sejatinya, rakyatlah yang punya hak atas panggung itu.

Posting Komentar untuk " Politik Sebagai Panggung: Siapa Aktor, Siapa Penonton?"